Tugas Kelompok
Softskill
Resensi Novel
1PA12
- Andre
Cristian 11514106
- Hikman Tartila 14514843
- Muhammad Taufik 17514563
- Muhammad Gerry 17514264
- Nila Laras Sari 17514952
Identitas Novel
Judul : Pada sebuah Kapal
Karangan : NH. Dini
Cetakan : Kedua, Tahun 1988
Tebal : 350 halaman
1. Sinopsis
Novel yang berjudul
Pada Sebuah Kapal karya Nh.Dini ini
menceritakan kisah perjalanan hidup seorang wanita yang bernama Sri. Kisah
Perjalanan hidupnya di awali ketika Ia pulang sekolah,waktu itu Ia baru masuk tahun
ajaran baru tepatnya Ia berumur tiga belas tahun. Sepulang sekolah dia merasa
ada yang aneh, karena rumahnya tidak sesepi biasanya. Sesampainya Ia di depan
pintu rumah, kakak laki-lakinya keluar dari pintu yang mengarah ke kamar tamu
menatap dengan gerakan yang hamper berlari mendekatinya, dan dia pun di peluk
dengan erat. Tiba-tiba dia mendengar suara yang parau di sela-sela isakan
kakakya “Ayah sudah pergi.”, dia pun menjawab “ Jadi dia sudah pergi .”(
berfikir pergi untuk kembali ), kemudian ibu nya datang menghampirinya dan
membiarkan dirinya di dekap dengan mesra oleh ibunya. Seorang demi seorang
kakaknya yang perempuan memeliknya, merekan memeluk dengan cara kesedihannya.
Dia pun lemah tak berdaya menghadapi berita tersebut, dan seseorang menarikku
untuk masuk ke kamar di mana terletak tubuh ayahnya. Dia merasa sesuatu yang
berat dalam dirinya. Ayahnya meninggal karena selama masa hidupnya menderita
oleh tubuhnya yang kurus da panas, sisa penanggungan di zaman pendudukan
belanda. Sri adalah seorang anak yang selalu membanggakan ayahnya,
kesehariannya lebih dekat dengan ayahnya dibandingkan dengan ibunya, semasa
ayahnya masih hidup mereka menghabiskan waktunya di samping rumah untuk
melukis, menanam dan merawat berbagai macam pohon dan bunga. Oleh karena itu
dia sangat kehilangan atas kematian ayahnya. Ketika dia berumur tujuh tahun
ayahnya mendaftarkan dia kesanggar tari. Sebulan kemudian dia merasa bahwa
gurunya senang akan kemajuannya. Impiannya waktu itu ialah menari di bangsal
sekolahnya pada hari-hari perayaan. Dan menjelang akhir tahun pelajaran, dia
menari untuk pertama kalinya di depan orang banyak, dia menarikan tari serimpi
dan tarian keratin yang berisi gerakan berhias dan permainan keris. Sejak hari
itu ayahnya menaruh perhatian yang tersendiri mengenei tingkatan-tingkatan
pelajaran tarinya. Setiap dia pulang menari, ayahnya selalu bertanya gerakan
baru apa yang sudah dia kuasai dan berapa banyak murid yang datang. Dan ayahnya
pun mengusulkan agar dia membawa kain yang lebih bagus warnanya dan sebagainya.
Dan ibunya pun memberikan kain batik buatannya sendiri, kain batik dengan warna
coklat kekuningan dengan gambar yang tampak jelas ketika terkena sinar lampu
yang terang, dengan bentuk parang rusak kecil-kecil amat teratur, kain itu
adalah hadiah yang berharga baginya mengingat perlakuan ibunya yang selama ini
tidak menginginkan adanya dirinya dengan alasan empat anak sudah cukup dengan
pengeluaran biaya yang besar baginya. Tetapi perlakuan ibunya selama ini tidak
membuat dirinya benci kepada ibunya, dia haya menganggap bahwa dia tidak pernah
merasakan hubunhan yang lebih rasa hormat seorang anak kepada ibunya. Ayah dan
ibunya sangat bangga karena dia sanggup menarikan tarian keraton, dan dia pun
selalu memakai kain batik pemberian ibunya itu pada waktu dia menari dengan
pakaian lengkap.
Sri
memasuki Sekolah Menengah Pertama dengan serba kebaruan. Namun kebaruan
tersebut lebih-lebih merupakan kekosongan bagi dirinya karena kematian ayahmya.
Awalnya dia tidak percaya dengan kepergian ayahnya, setiap Ia pulang sekolah,
dia selalu mengharapkan suatu keajaiban datang dalam kehidupannya, suatu
keajaiban yang dapat mengembalikan ayahnya pulang kerumah, namun dia sadar itu
merupakan suatu kesalahan dan suatu kekeliruan karena ayahnya tidak mungkin kembali
lagi di tengah keluarganya. Setelah dia ditinggalkan oleh ayahnya, dia
sering pergi ke gedung kecil tempat dimana orang dapat mendengar suara gamelan
yang lenbut dan penuh gairah dan semangat. Dia selalu datang ke tempat itu
ketika tidak ada latihan untuk tingkatannya, dia duduk memukul gamelan, dan
keisengannya itu memberikan keuntungan yang selama ini sangat berharga baginya.
Dia menari, memukul dan mengenal gamelan, dan akhirnya dia belajar menembangkan
pantun-pantun yang bersendukan aneka perasaan.
Sri
adalah wanita yang pendiam, kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah
kata-kata yang penting saja, apalagi setelah kematian ayahnya, dia semakin
menjadi wanita yang pendiam, tetapi ketika ada seseorang yang mengajaknya untuk
mengikuti latihan kepanduan, dia mulai bisa berbicara, dan dia mulai bisa
mengemukakan pendapat di depan sekelompok temannya. Bahkan setahun kemudian dia
berani menerima tanggung jawab sebagai guru tari, menggantikan guru tari yang
kadang-kadang tidak datang untuk mengajarkelas di bawahnya.
Pada
suatu hari dia melihat ibunya berbicara mengenai dirinya kepada seorang kenalan
yang sudah lama tidak berkunjung kerumah. Dan ibunya berkata “Sri masih seperti
dulu, tidak banyak bersuara, bisanya hanya berbicara dengan kucing, dengan ayam
atau tanamannya di kebun muka itu.” Dia mengetahui hari itu, bahwa ibunya tidak
sejahat yang dipikirkannya semula. Ternyata ibunya juga mempunyai waktu untuk
memperhatikan apa yang dikerjakannya dan pertumbuhan usianya. Dia tersenyum
mendengarkan percakapan ibunya dengan orang tersebut.
Keluar
dari Sekolah Menengah Atas Sri bekerja sebagai penyiar radio di kotanya
(Semarang), Selain tidak ad biaya untuk melanjutkan keperguruan tinggi, dia
juga merasa dirinya tidak secerdas kakak-kakaknya. Setahun kemudian kakkaknya
Sutopo memutuskan pergi ke Jakarta untuk bekerja, sebagai seorang senniman. Dua
tahun berlalau dia bekerja sebagai penyiar, tetapi dia mulai merasa kebosanan
yang tidak terasa semakin hari semakin membuatnya murung dan sedih.karena dia
merasa memiliki teman yang itu-itu juga karena lingkungannya hanyalah berkisar
pada hal-hal keradioan. Mulai hari itu dia berfikir bagaimana caranya bisa
mendapat uang yang lebih dari gaji yang diterimanya di radio. Menginjak
tahun yang ketiga dia benar-benar bosan pada pekerjaannya itu, di tambah Susana
rumahnya saat inni tidak seperti dulu lagi, suasana rumah yang saat ini di
penuhi oleh sekelompok anak kost yang yang menguasai kebun di halaman rumahnya.
Pada
suatu hari dia melihat pengumuman dibukanya kesempatan menjadi pramugari. Tanpa
memberi tahu seorangpun akhhirnya sri memutuskan untuk mengirimkan pendaftaran
untuk menjadi pramugari. Akhiornya dia mendapat panggilan untuk di uji di
Jakarta, selama ujian masuk pramugari dia menginap di rumah pamannya, pada hari
yang sudah di tetapkan dia datang ke gedung pinggir kota tidak jauh dari
lapangan udara,untuk melaksanakan ujian untuk pendidikan pramugari. Sesampainya
di tempat dia bertemu dengan teman sekelas waktu SD Yaitu Narti yang sama akan
mengikuti ujian tersebut. Ujian berlangsung selama tiga hari yaitu wawancara,
tes tulis dan tes kesehatan, mereka tidak langsung mendappatkan hasil
pemeriksaan kesehatan, oleh karena itu Setelah ujian berakhir Sri diajak ke
Bandung ke rumah Narti, satu hari Sri di bandung, kemudian dia pulang ke
Semarang, Sembari menunggu surat keputusan di terima atau tidaknya Sri Menjadi
seorang Pramugari, dia meneruskan aktifitasnya menjadi seorang pnyiar, dan dia
pun menceritakan kepada Ibu dan kakak-kakaknya tentang rencananya pindah ke
Jakarta Untuk bekerja kalau tidak sebagai penyiare, sebagai pramugari, dan
ibunya tidak menentang seperti Ibunya Narti.
Beberapa
hari berlalu, sepulang dari bekerja, akhirnya surat itu datang, pertama-tama
yang dibacanya adalah nilai wawancara dan nilai tes tulis, hasil nilainya pun
baik semua. Pada lembar yang kedua yaitu hasil pemeriksaan kesehatan. Pada
pasal kelima dikatakan bahwa dokter telah melihat noda-noda yang samara di
paru-paru sebelah kirinya. Sri tidak diterima untuk pendidiakn itu. Tetapi Sri
diminta datang ke Jakarta lagi untuk menerima penjelasan lebih lanjut, biaya
perjalanan dengan kereta api kelas tiga akan diganti. Sri sangat terpukul atas
keputusan tidak di terimanya dia menjaidi seorang pramugari, karena selama ini
dia mempercayai kesanggupannya untuk dapat masuk ke pendidikan itu, dia baru
sadar
Ternyata
dia tidak sesehat yang dia fikirkan, sakit kepala sedikit batuk-batuk dan
sedikit susah bernafas yang selama ini dia rasakan dia anggap sebagai masuk
angin biasa. Dia sangat,sangat dan sangat kecewa, akan keputusan dari isi surat
itu, Sri tidak menceritakan kepada siapapun tentang penyakitnya itu. namun
dengan adanya pernyataan bahwa dia di minta ke Jakarta untuk diberikan
penjelasan lebih lanjut. Akhirnya dia mengajukan permintaan keluar dari tempat
kerjanya. Kerjan (kepala bagian di radio tempat sri bekerja) tidak mempercayai
keputusan sri yang ingin berhenti dari pekerjaannya, kerjan menghalanginaya
untuk berhenti, Karena Sri adlah penyiar yang paling dibanggakan , juru
wawancara wanita yang lancer, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, wanita
yang berwawasan luas, wanita yang tahu betul seluk beluk seni dan budaya.
Kerjan mengusulkan kepada Sri untuk meminta surat Dokter untuk berlibur.Istri kerjan (warsih) kenal baik
dengan Sri, karena Warsih dan keemp[at anaknya belajar menari pada Sri.
Pada
hari berikutnya dia pergi ke dokter kenalan ayahnya di kota itu (semarang),
kemudian Sri membicarakan surat dari Jakarta. Dokter itu pun membacanya, dan
menyarankan Sri untuk segera berobak karena penyakitnya itu masih
gejala-gejala.. dokter kenalan ayahnya tersebut memberikan alamat Dokter
Martono (Dokter Spesialis Paru-paru), dan Sri meronsen paru-parunya, dari hasil
ronsen Dokter itu berkata bahwa noda-noda yang ada pada paru-parunya akan
shilang kalau Sri segera berobat dengan sungguh-sungguh. Dia menasehati untuk
pindah ke kota yang sejuk dan tidak terlalu lembab. Sri memilih salatiga
sebagai tempat peristirahatannya atas dasar pertimbangan-pertimbangan tertentu
Sri tidak jadi keluar dari tempat kerjanya, karena sebagai pegawai pemerintah
Sri hanya akan diwajjibkan membayar sebagian dari biaya pengobatan dan
penginapan peristirahatan. Selama di tempat peristirahatan sri bertemu dengan
temen kakaknya yaitu Yus, setiap hari Yus mengajak Sri keluar Untuk menemaninya
melukis, hari-hari yang di lewati Sri di penginapan semakin cepat, selama
sembilan minggu Sri berada di penginapan, akhirnya dia diperbolehkan untuk
pulang.
Bulan
berikutnya Sri pergi ke Jakarta untuk memenuhi panggilan dari perusahaan
penerbangan, nemun sesampainya disana sri tidak di terima sebagai pramugari,
tetapi sri di tempatkan di bagian kewartawanan, ada majalah perusahaan yang
terbit satu bulan sekali dan oaring yang waktu itu mewawancarai Sri ketika ujjian
mengatakan “ Kelak kalau ada lagi pembukaan Pendidiakan pramugari, anda akan
dapat mendaftarkan diri,” Sri mengucapkan terimasaksih dan akan memberikan
keputusan seminggu lagi. Sri berniat menemui Narti yang di terima sebagai
pramugari, namun syang narti tidak ada di tempat,dan Sri pun menitipkan alamat
dan nomor telpon kepada salah satu petugas kantor. Sesampainya di rumah, sri
meminta pendapat dari sutopo(kakaknya) mengenai pekerjaan yang ditawarkan oleh
pihak penerbangan, namun sutopo menyarankan Sri untuk menolak pekerjaan itu,
melihat kondisi sri yang baru sembuh, dan akhirnya sutopo membawaku ke sebuah
sanggar tari milik temannya, di sana Sri belajar berbagai macam tarian mulai
dari tarian jawa, bali dan sebagainya.
Dengan
surat-surat dari kepala bagian di Semarang dan pengalaman kerja selama tiga
tahun, Akhirnya Sri bekerja sebagai penyiar di Jakarta. Pekerjaan itu tidak
asing bagi Sri kecuali gedungnya yang besar. Dua bulan Sri bekerja sebagai
penyiar radio di Jakarta, rekan-rekan wanita di tempar Sri bekerja selalu sibuk
dengan acara rutin yaitu gosip, pada sore hari sepulang dia bekerja, dia duduk
di teras depan rumah pamannya, tiba-tiba mobil jip angkatan udara menghampiri
Sri, ternyata yang turun dari mobil itu adalah Narti beserta kedua temannya
Mokar dan Saputro datang ke rumah pamannya. Dan narti pun mengenalkan kedua
temannya itu, Narti memuji keahlian Sri dalam menari di depan kedua temannya
itu. mereka melepaskan rasa rindunya dengan saling bercerita. Sri, Narti dan
kedu temannya itu berjanji suatu saat ketika diantara mereka tidak ada
kesibukan mereka akan nonton bareng.
Sri tidak merasa sukar dalam mengatur jadwalnya untuk dinas dan untuk latihan
menari, karena atasan sri mengerti dengan kegiatan Sri di luar dinas. Selama si
sanggar tari Sri mencintai pemuda yang bernama Basir, namun cinta Sri bertepuk
Sebelah tangan, karena criteria yang di idam-idamkan oleh basir untuk menjadi
kekasihnya tidak sedikitpun ada pada diri Sri.
Di
tempat kerjanya Sri di kucilkan oleh rekan-rekannya, belum sempat memikirkan
kesalahan apa yang dia perbuat terhadap rekan-rekannya itu, Sri mendapat
telepon dari kakaknya yang di Semarang, kakaknya mengabarkan bahwa Ibunya
meninggal karena serangan jantung, sore itu juga Sri, sutopo, beserta pamannya
pergi ke Semarang. Sesampainya di semarang semua perhatian orang di arahkan
kepada Sri, Sri mencoba untuk tegar menghadapi semua ini. Sesudah hari ke tiga
mereka kembali ke Jakarta, Sri melskuksn rutinitasnya kembali sebagai penyiar
dan latihan menari. Saat itu Sri sering di undang istana untuk menari, dan
setelah dia menari di Istana, Susana di kantor mulai memanas Sri dijadikan
sebagai bahan omongan rekan-rekannya, mereka menganggap Sri adalah wanita
panggilan bagi pejabat-pejabat istana.
Pada
suatu sore Yus datang ke Jakarta untuk menemui Sri, pada malam harinya Yus
mengajak Sri untuk keluar makan, dan Sri pun menerima ajaknanya, di tengah
pembicaraan makan malam tersebut, Yus mengungkapkan perasaannya terhadap Sri,
kalau selama ini Yus mencintai Sri, dan Yus ingin menikahinya, namun Sri
menolak Cinta nya, dengan alasan Sri belum ingin menikah dalam jangka waktu
yang dekat, setelah selesai makan, Yus mengantar Sri pulang dengan naik becak,
Yus mengantar sri sampai kedepan rumah,dan Yus langsung metarik tangan sri, dan
Yus memeluk dan mencium bibir Sri, Sri marah dan berjanji tidak akan pernah
menemui Yus lagi, Itu merupakan ciuman pertama Sri.
Sri sering menari di istana, dan pada suatu hari Sri main ke rumah kakaknya
Sutopo, di sana ada teman sutopo yng berkebangsaan amerika,kemudian sutopo
mengenalkan Sri pada orang itu Carl Namanya dia adlah oaring yang sangat kaya.
Dia berniat membeli lukisan-likisan sutopo.
Pada
suatu pagi, Sri pergi kebagian bahasa perancisuntuk menanyakan ucapan sebuah
nama lagu yang tidak dia kenal, ketika hendak keluar, Sri bertemu dengan Biran
dari bagian berita di iringi oleh seorang bangsa asing, dan orang yang
berkebangsaan perancis itu lagsung tersenyum kepada Sri, ketika Sri
meninggalkan ruang kerjanya sebentar tiba-tiba ada kartu nama Charles Vincent
(Kedutaan Perancis), ternyata Charles mencintai Sri.
Pada
malam kesenian Kongres Pemuda Se-Asia, Sri diambil oleh pemimpin seni tari
untuk menari di acara tersebut. Ternyata Saputro(teman Narti) yang dulu pernah
berkenalan dengannya juga hadir dalam acara itu, dan Saputro sangat terkagum
akan keahliannya dalam menari, Setelah pertemuan mereka di acara tersebut
Saputro sering mengajak Sri keluar, baik itu untuk nonton maupun untuk makan,
mereka berdua saling mencintai, namun karena profesi Saputro adalah seorang
pilot, sering sekali acara-acara keluar mereka selalu dibatalkan, karena
Saputro sering mendapat tugas keluar kota secara mendadak, pada awalnya Sri
merasa di nomor duakan tetapi lama kelamaan Sri menyadari akan pekerjaan
kekasihnya. Pada usatu hari Saputro di tugaskan untuk terbang ke Eropa tengah,
selama tiga bulan Saputro dinas di sana, selama kepergian Saputro, Sri sangat
merindukan kekasihnya, sampai pada saat kedatangan saputro, keduanya tidak bisa
menahan rasa rindu yang selama ini mereka pendam, dan akhirnya malam itu Sri
menyerahkan keperawanannya kepada Saputro. Keesokan harinya saputro membawakan
gelang emas dan cincin bermata berlian itu merupakan sebagai tanda pertunangan
mereka. Sri mulai menyiapkan segala sesuatu untuk persiapan pernikahan mereka,
mulai dari pakaian dan lain-lain, mulai hari itu Sputro selalu menyebut Sri
sebagai istrinya di depan teman-temannya. Selama enam minggu mereka hamper
setiap hari bertemu, namun waktu istirahat Sputro telah habis, Saputropun kembali
bertugas, kali inni Saputro harus terbang ke Malang, ke esokan harinya Saputro
menelpon Sri memberitahu kalau Saputro akan kembali kejakarta dengan menumpang
pesawat temannya karena Saputro harus mengambil pesawat lain yang masih di
Halim, Saputro menggantikan temannya Nyoman yang tidak bisa terbang karena
sedang sakit.
Paginya
Sri dinas, ketika dia sedang berada di ruang kerjannya, Sri di panggil untuk ke
ruangan kepala bagian, Sri pun segera ke ruangan atasannya, di sana Sri melihat
ada seorang berpakaian seragam angkatan udara yang segera berdiri ketika
melihatnya datang, Sri menanyakan kepada Bapak kepala bagian ada apa beliau
memanggil dirinya, Bapak kepala pun menunduk kepala dalam-dalam dan
memberitahukan bahwa ada kabar yang tidak menyenangkan dari bandung, bahwa
saudara Saputro gugur, Sri langsung menyanggah bahwa Saputro ada di Malang, dan
orang yang berpakaian seragam itupun menyela “Kapten Saputro telah berangkat
dari Malang jam delapan dua belas menit bersama Kapten Suwarno melalui semarang.
Sampai di Bandung pesawatnya jatuh, Sri langsung pinsan mendengar pernyataan
tersebut, dan dia pun diantarkan pulang oleh petugas angkatan udara, ketika
sadar Sri langsung memberitahukan kepada sepupunya tentang kematian Saputro.
Sri tidak bisa menerima kematian saputro, dia akan tetap merindukan Saputro
yang hanya sekejap menyertainya kenikmatan dunia muda yang bergerak, asri dan
segar. Dunia ini terbengkalai ditinggalkan oleh Saputro. Keesokan harinya Sri
dan pamannya pergi kebandung, jenazah kapten Suwarno akan di makamkan di yogya,
dimana istri dan dua anaknya telah menunggu dengan kesedihan yang dia kira
lebih parah dari dirinya, ketika Sri turun dari pesawat, Nyoman menyambut
tangannya dan dia dibawa ke tengah-tengah teman-teman. Dia melihat dua peti
jenazah berjajar, diselubungi bendera kebangsaan. Api di sebuah tempat kuningan
masih menyala. Kembang mawar, kantil dan melati tertabur berbau wangni. Dia
tidak membuka peti itu karena muka dan badan Saputro hancur lebur, baginya
membuka peti itu hanya akan menambah rasa sakit bagi dirinya.mereka berangkat
ke Semarang beberapa menit kemudian, ibu,ayah dan adiik-adik saputro telah
menunggu. Mereka memeluk Sri, Sri melihat Mokar mendekatinya dan mengulurkan
tangannya,matanya merah, selama pemakaman Mokar tidak meninggalkannya barang
sebentar, hatinya merasa tentaram melihat Momkar berdiri tidak jauh darinya,
Makam pahlawan yang hening dan bersih itu terpaku dikenangnya.
Sri kembali ke Jakarta keesokan harinya, dia kembali bekerja, seminggu kemudian
dia mengajukan cuti tidak di bayar selama lima bulan, akhirnya permohonan
cutinya dikabulkan, Sri berencana menenangkan dirinya selelah kematian Saputro
ke Yogya, di sana ada rumah temannya sutopo yang kosong karena teman sutopo
sendiri menetap di bali, Nyoman menelpon Sri dan berjanji akan mengantarkan Sri
ke Yogya dua hari lagi, menurut teman-teman, Nyoman merasa bertanggung jawab
atas kematian Saputro, Karena pada waktu kejadian harusnya Nyomanlah ynag
bertugas, tetapi karena dia sakit, akhirnya Saputro menggantikannya. Sri telah
diajarkan oleh Saputro untuk mencintai teman-temannya seperti dia mencintai
saudaranya sendiri. Ternyata Carl juga minggu depan berencana ke Yogya, awalnya
Carl mengajaknya berangkat bersama, tetapi karnya Nyoman dua hari lagi akan menjemputnya
untuk ke Yogya, Akhirnya Sri berangkat ke Yogya, dan Sri berjanji akan menemani
Carl ke pantai parngkritis ketika carl sudah ada di Yogya. Selama di yogya Sri
menghabiskan waktunya berama Carl, ketika mereka pergi berjalan-jalan keluar,
Carl mengungkapkan isi hatinya dan berniat menikahinya, namun Sri ragu akan
cinta Carl, dan ternyata benar, Carl menyombongkan hartanya, kata-kata yanga
paling menyakitkan bagi Sri yaitu ketika Carl berkata “Kau bisa meminata
perjanjian perkawinan yang paling mahal, aku akan memberikannya, kau akan
bahagia denganku.” Sri menolak Carl dengan alasan dia tidak mencintainya, lagi
pula baying-bayang wajah Saputro masih terlihat jelas di ingatanya, selain itu
pula Sri tidak yakin akan kemampuan dirinya untuk mempertahankan Carl ketika
dia menikah dengan carl, gaya hidupnya terlalu berbeda dengan gaya hidupnay,
dia sangat kaya dan tampan sedangkan dirinya merasa orang yang sederhana.
Sepuluh
bulan kemudian Sri menikah dengan Charles Vincent, tetapi kakaknya sutopo
menentang pernikahan mereka, Sutopo menganggap Sri belum terlalu mengenal
Charles dengan baik, dan lagi Charles adalah seorang yang bekerja di kedutaan
Perancis, karena dirinya seorang Negarawan maka Sri pun harus beralih
kewarganegaraannya, kemudian sutopo mengatakan kalaupun Sri mau menikah dengan
orang asing kenapa harus menolak Carl orang yang selama ini dia kenal baik
hati. Lalu Sri menyanggah perkataan sutoppo yng barusan, Sri lebih mengenal
sifat Charl tentang sifatnya yang jelek, Sri menceritakan kejadian selama dia
berada di yogya ketika bersama Charl. Setelah Sri memutuskan menikah dengan
Charles saat itu pula permusuhan diantara Sri dan Sutopo di mulai, Sri merasa
sakit hati karena Sutopo selalu membantah keinginannya untuk hidup bersama
Charles.
Sri
merasa sudah cukup mengenal Charles selama dia berada di Yogya dia selalu
berkomunikasi dengan Charles lewat surat, waktu Charles liburan Pantekosta di
datang kejakarta, setiap hari Charles mengajaknya nonton film, keluar makan,
dia merasa senang berada di dekat Charles, Charles adalah seorang pria yang
berwawasan luas, dan Sri adalah wanita yang haus akan pegetahuan baru, setiap
kali jalan keluar, Charles membicarakan hal-hal yang belum pernah Sri
ketahui,jadi perbincangan mereka sangat menarik.Charles adalah seorang duda
yang di tinggal mati oleh istrinya, selama sepuluh tahun dia belum menikah
lagi, itu yang membuat Sri lebih mengagumi akan kesetiaannya terhadap pasangannya.dan Sri pun menceritakan tentang
Saputro.
Pada
suatu hari Charles mendapat tugas ke jepang,dan akhirnya Charles dan Sri pergi
ke jepang, selama tinggal di jepang Sri baru mengetahui sifat dari suaminya
yang sebenarnya, dia terlalu,egois,otoriter serta terlalu ikut campur dalam
urusan rumah tangga,mulai dari memeriksa pekerjaan pembantu, membersihkan
lantai sampai ke urusan dapur. Sri pun baru menyadari bahwa dirinya telah
menikahi orang yang salah, Sri merasa bahwa dirinya telah dikekang oleh
suaminya. Charles menganggap Sri terlalu boros, karena Sri telah membeli
pakaian tebal karena pakaian yang dia bawa dari Indonesia terlalu tipis di
pakai untuk di daerah dingin seperti Jepang. Sri pun mengandung,dan seperti
biasanya Charles tidak mengizinkan Sri untuk membeli baju hamil, seadngkan
baju-baju yang selama ini dia pakai sudah tidak cukup untuk dipakai oleh orang
yang sedang berbadan dua, yang lebih menyakitkan lagi ketika Charles selalu
mencemoohkan Sri di hadapan teman-temannya, dan perlakuan seperti itu sering
Sri alami. Namun Sri selalu sabar menghadapi suaminya itu, karena Sri dibesarkan
dalam keluarga yang sangat menghargai yang namanya pernikahan, Sri selalu di
ajarkan oleh ibunya untuk menjadi istri yang patuh pada suami, namun karena Sri
sering merasa dirinya telah direndahkan oleh suaminya, niat untuk menumbuhkan
rasa cinta kepada Charles telah pupus, karena bukan rasa cinta yag akan hadir,
tetapi kebencian yang mendalam yang dia rasakan terhadap suaminya.
Ketika
usia anak Sri memasuki umur dua tahun, carles mengajukan cuti panjang, dan
merekapun berlibur ke Jakarta selama satu bulan, kemudian mereka melanjutkan
liburannya ke Marseile, namun Charles mempunyai rencana berlibur sendirian ke
India, oleh karena itu, Sri dan anaknya di lepaskan Charles di Saigon dengan
menggunakan kapal laut, sedangkan charles sendiri berlibur ke India seorang
diri dengan menggunakan pesawat.
Di kapal itulah cinta terlarang Sri dengan seorang komandan kapal yang sudah
beristri dan mempunyai dua orang anak di mulai, komandan tersebut bernama
Michel, Michel adalah seorang laki-laki yang telah dikecewakan oleh istrinya
(Nicole), sebelum Michel menikah dengan Nicole yang sekarang menjadi istrinya,
tidak ada sedikitpun rasa cinta dalam diri Michr\el, karena Michel merasa bahwa
karakter yang terdapat dalam diri Nicole tidak sedikitpun menggambarkan wanita
impiannya, Nicole berumur lima tahun lebih tua dari Michel. Michel menikahi
Nicole karena ibunya Michel sendiri yang menginginkan pernnikahan itu terjadi,
karena ibunya Michel sudah mengetahui gaca pacaran Michel dan Nicole.
Sri
yang selama ini tidak merasakan kebahagiaan dari suamimnya, dia merasa ada
suatu getaran yang amat sangat mendalam ketika bertemu dengan komandan kapal,
Karena kekuatan akan ketenangan,kenyamanan dan kelembutan ketika Sri berada di
samping Michel, Sri melakukan hubungan badan dengan Michel sebelum Sri
mengetahui siapa nama orang yang sudah tidur bersama dirinya. dikarenakan
ketampanan,kegagahan dan kelembutan dari sosok Michel pun merasakan bahwa Sri
adalah wanita yang selama ini di carinya karena keibuannya, kelembutannya,
keramahannya dan kemanisannya. Kekaguman Michel kepada Sri bertambah ketika Sri
Menari tarian jawa di pesta yang di adakan oleh para pengelola kapal, bukan
hanya Michel saja yang terkagum, seluruh awak kapal pun merasa tersanjung atas
kepiawaian Sri dalam menarikan tarian jawa, meskipun Sri menari dengan pakaian
tari yang tidak lengkap, karena Charles suaminya selalu melarang Sri untuk
melakukan kegiatan yang berunsurkan budaya timur (Indonesia). Selama perjalanan
mulai dari Saigon sampai Marseille Sri merasa dirinya telah menemukan
kebahagiaan yang selama ini dia harapkan dari sesosok suaminya, namun sayang
orang yang bisa menenangkan hatinya itu adalah kekasihnya, bukan suaminya.
Malaam itu adalah malam perpisahan Sri dengan Michel, Sri dan Michel pun merasa
tidak percaya akan adanya perpisahan yang akan mereka alami besok, karena
ketidak relaan Michel untuk melepaskan kekasihnya itu, maka Michel memutuskan
untuk tidak melihat Sri turun dari kapal meninggalkan dirinya, apalagi ketika
melihat Sri di jemput oleh suaminya (Charles). Dan akhirnya mereka berpisah.
Sri
dan Charles meneruskan liburannya di Perancis, seperti biasanya, Charles tidak
memperdulikan Sri sebagai istrinya, selama liburan Sri hanya diperlakukan
sebagai kacunngnya, tanpa memikirkan bagaimana perasaannya. Setelah pertengahan
musim gugur, mereka kembali ke Kobe, sesampainya mereka di Kobe, Sri
mendapatkan surat dari Michel, dimana surat yang sudah datang dari dua minggu
yang lalu berisikan kabar bahwa ada kemungkinan buat Michel untuk membawa kapal
yang akan berlabu di jepang. Dengan susah payah Sri mencari informasi di
pegawai pelabuhan tentang kedatangan Michel di jepang, akhirnya Sri mendapatkan
informasi bahwa kapal yang akan di bawa Michel akan datang dua bulan lagi. Sri
selalu menunggu datangnya bulan tiu, untuk mengatasi kejenuhannya menunggu
Michel yang akan datang dua bulan lamanya, Sri menyibukkan diri untuk membantu
dua mahasiswa yang akan menyelenggarakan pengumpulan amal untuk panti
asuhan,dengan pagelaran seni tari. Carl yang ketika Sri baru pulang dari
prancis sudah ada di jepang, dia sedang melanjutkan stadinya di Kobe, sekarang
Carl sudah menikah dengan teman wanitanya semenjak kecil. Namun ketika
kehadiran Carl yang kedua kallinya dalam hidup Sri, dan mungkin dengan kondisi
rumah tangga Sri saat itu, Sri merasakan suatu getaran yang berbeda dari
sebelumnya, namun kekuatan getaran itu tidak menggoyahkan hati Sri yang terlalu
tegak oleh tongkat cinta yang di berikan Michel kepadanya. Acara penggalangan
amalpun dilaksanakan, Charles dan Carl pun hadir pada acara tersebut, dan Carl
adalah donator yang paling banyak menyumbangkan uangnya untuk anak-anak panti
asuhan di kota itu. Dengan berjalannya waktu, keadaan rumah tangganya semakin
tidak bersahabat, mungkin karena rasa kebencian,kemuakan nya terhadap Charles
yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Dan akhirnya waktu yang selama ini dia
tunggu dimana Michel berada di Negara yang sekarang dia tempati, Dua kali Sri
mencari alasan kepada Charles agar dia bisa bertemu dengan charles. Hari petama
Sri menemui Michel dengan alasan akan menonton pertunjukan seni tari, dengan
berat hati Charlespun mengizinkan, dan Sri pun pergi dari rumah sendirian
dengan meminjam mobil nyonya Darti ( istri kepala konsul Indonesia) mengingat
ketidak senangan Charles terhadap pertunjukan seni. Sri pun berhasil sampai di
pelabuhan untuk menemui Michel walaupun semapat kucing-kucingan dengan petugas
pelabuhan, mengingat jabatan dari suami Sri adalah sebagai wakil konsul
Perancis, sehingga tidak seikit dari para karyawan kapal yang mengenal Charles
dan Sri. Akhirnya merekapun bisa bertemu kembali dan mereka langsung masuk ke
kamar untuk melepaskan rasa rindu karena sudah lama tidak ketemu,. Haripun
sudah mulai gelap, dan Sri pun meninggalkan kapal dan segera bergegas pulang
karena di rumah anaknya sudah menunggu dia. Pada keesokan harinya Sri pun
mencari alasan kembali untuk bertemu dengan michel mengingat hari itu adalah
hari terakhir michel berada di Jepang karena dia berada di Jepang hanya dua
hari, dan Sri pun bertemu kembali dengan Michel, hari itu Sri di ajak Michel
menikah dan ikut bersama dirinya berlayar keliling dunia dan hidup bahagia
bersama Michel, namun Sri menolak ajakan Michel dengan alasan di antara mereka
sudah mempunyai pasangan hidup masing-masing walaupun kehidupan keluarga mereka
tidak pernah diselimuti kebahagiaan, namun di antara mereka ada seorang anak
yangn membutuhkan keduanya. Seolah memberi harapan kepada Michel, Sri
menyarankan kepada Michel agar dia pindah kerja dari lautan ke daratan, Sri pun
memberi tahu rencananya yang akan pindah ke Paris karena tugas Charles pindah
di paris, dia aka tinggal disana paling sedikit tiga tahun. Merekapun berpisah
kembali walaupun dengan hati yang sangat-sangat berat. Michel melanjutkan
perjalanannya dan Sri pun melanjutkan hidup nya bersama Charles dan putri
cantiknya.
Mengingat
akan perkataan Sri yang akan pindah ke paris, Michel pun mempunyai rencana
untuk pindah ke darat, namun karena kecintaannya terhadap laut, dan dengan
posisi Sri saat ini masih menjadi seorang istri dari Charles, dia memutuskan
untuk tidak pindah pekerjaan dari laut ke darat. Selama dua hari Michel
berlibur ke paris, ingat akan perkataan Sri yang rencanya pindah keparis, waktu
yang sigkat Michel gunakan untuk mengenal kota kota paris, dengan harapan
ketika Sri datang ke Paris Michel akan mengajaknya mengelilingi paris.
2. Unsur
Intrinsik novel “Pada Sebuah Kapal”
1. Tema
Perselingkuhan
yang disebabkan oleh ketidakharmonisan dalam rumah tangga dan ketegaran dalam
menghadapi semua masalah yang dihadapi dalam hidup.
2. Latar atau Setting
a.
Semarang
b.
Jakarta
c.
Kobe, Jepang
d.
Kapal
e.
Perancis
f.
Yokohama
3. Alur atau Plot
a. Tahapan Permulaan
Sri
dibesarkan dalam keluarga yang kental dengan darah seniman. Dia adalah anak bungsu
dari lima bersaudara. Seperti kakak – kakaknya, dia dimasukkan ke sekolah tari
oleh ayahnya. Saat umurnya tiga belas tahun, ayahnya meninggal. Setelah selesai
dari sekolah menengah atas, Sri bekerja sebagai penyiar radio yang ada di
kotanya, Semarang. Tiga tahun menjadi penyiar radio, Sri mulai merasa jenuh.
Dia mencoba mengikuti pendidikan pramugari dan akhirnya mendapat kesempatan
untuk diuji di Jakarta. Sri mengikuti berbagai macam tes. Hasil tes dapat
diketahui beberapa bulan kemudian. Berdasarkan hasil tes yang diterima, Sri
mengidap penyakit paru – paru, sehingga dia tidak diterima menjadi pramugari.
Sri melakukan pengobatan dan istirahat total dari pekerjaannya selama dua
bulan. Dia memilih tinggal di Salatiga untuk menyembuhkan lubang yang terdapat
di paru – parunya. Setelah sembuh, Sri memutuskan pergi ke Jakarta. Dia tinggal
di rumah pamannya yang dulu ditempati Sutopo, kakaknya yang telah lebih dulu ke
Jakarta. Sekarang Sutopo memiliki rumah sendiri di Jakarta.
b. Tahapan Pertikaian
Selain
bekerja sebagai penyiar radio, Sri menjadi penari untuk menari di istana pada
perayaan – perayaan tertentu. Rekan – rekan kerjanya, sebagian tidak menyukai
Sri, namun Sri tetap sopan terhadap mereka dan bersabar menghadapi semuanya. Di
Jakarta, Sri bertemu dengan teman kecilnya waktu sekolah dasar, namanya Narti.
Sekarang Narti bekerja sebagai pramugari. Dia sering menemui Sri untuk sekedar
makan atau nonton film. Dari Narti, Sri mengenal Mokar dan Saputro yang
merupakan pilot angkatan udara. Selain itu, Carl seorang warga negara asing,
kawan Sutopo, dan Charles yang berkebangsaan Perancis yang sangat tertarik
dengan kebudayaan. Setelah beberapa lama tinggal di Jakarta, Ibu Sri meninggal.
c. Tahapan Perumitan
Sri
bertemu lagi dengan Saputro pada Malam Kesenian Pemuda se- Asia. Pada saat itu
Sri merasakan ada yang berbeda dalam dirinya, begitu melihat sikap Saputro yang
seperti mencintanya. Padahal sebelum – sebelumnya mereka sering pergi bersama
tapi bersama Narti dan Mokar. Sejak malam itu, keduanya semakin dekat dan
menjalin kasih. Setelah merasa cukup, mereka memutuskan akan tunangan dan
segera menikah setelah Saputro selesai mengikuti pendidikan di Cekoslovakia.
Namun impian yang telah dirancang itu harus terkubur dalam – dalam, karena
Saputro tewas saat penerbangan Bandung – Jakarta. Hati Sri hancur mendengar
kabar buruk itu, Sri tenggelam dalam kesedihan. Di saat yang sulit – sulit itu,
Carl selalu menghibur Sri, karena dari awal dia juga sudah menyukai Sri. Namun
Sri menolak cinta Carl. Setelah sepuluh bulan kematian tunangannya, Sri
memutuskan untuk menikah dengan Charles. Walaupun sebenarnya, dia idak
mencintai Charles. Keputusan Sri untuk menikah dengan Charles tidak disetujui
oleh keluarga, terutama kakaknya. Sutopo yakin kalau adiknya tidak akan bahagia
jika menikah dengan Charles, karena Sri belum terlalu mengenal Charles dengan
baik. Namun Sri keras kepala, Dia tetap menikah dengan Charles
d. Tahapan Puncak ( klimaks)
Setelah
menikah dengan Charles, kewarganegaraan Sri berubah menjadi Perancis mengikuti
suaminya. Mereka menetap di Kobe-Japang. Pernikahan Sri dengan Charles tidak
bahagia, walaupun Charles selalu bilang mencintainya. Setelah menikah, sikap
Charles berubah. Charles tidak lagi seperti yang dikenal Sri sebelum menikah.
Sekarang Charles suka marah – marah dan membentak Sri. Sikap ini membuat Sri
semakin membenci Charles. Dari Charles, Sri melahirkan anak perempuan. Saat
umur anaknya dua tahun, Charles mengajak istrinya berkunjung ke beberapa
Negara. Setelah satu bulan berada di Indonesia, mereka terbang ke Saigon.
Disana Charles meminta istri dan anaknya untuk melakukan perjalanan dengan
kapal, sedangkan dirinya akan mengunjungi Negara – Negara yang ingin dikunjunginya.di kapal itulah Sri menemukan
kebahagiaan yang selama ini telah hilang.
Dalam perjalanan dari Saigon menuju Marseille, Sri bertemu dengan seorang
komandan kapal bernama Michel Dubanton. Sikap yang ditunjukkannya membuat Sri
jatuh hati pada komandan tersebut. Dalam beberapa kesempatan, mereka bertemu
dan mulai mengenal satu sama lain. Sri yang tidak bahagia dengan pernikahannya
dengan Charles, dan Michel yang kecewa dengan istrinya Nicole, mencoba mencari
kebahagiaan di luar pernikahannya. Perjalanan dari Saigon menuju Marseille
merupakan hal ang sangat membahagiakan bagi Sri, walaupun dia tahu menghianati
suaminya merupakan suatu kesalahan, tapi dia tidak menyesalinya.
e. Tahapan Peleraian
Setelah
perjalanan berakhir, Sri dan Michel harus berpisah. Sri sangat sedih, dia
menangis karena perpisahan mengingatkan dirinya akan seseorang yang telah
meninggalkannya. Setelah urusan suaminya selesai, mereka kembali ke Kobe.
Kehidupan Sri kembali seperti semula rumah tangganya dilalui dengan
pertengkaran – pertengkaran. Sampai – sampai Sri memutuskan meminta cerai
kepada suaminya dengan alasan sudah tidak mencintainya lagi. Tapi Charles
menolak dengan alasan anak. Setelah beberapa lama tidak bertemu, Michel
mengabarkan akan ke Yokohama dan kesempatan itu tidak disia – siakan oleh
mereka.
f. Tahapan Akhir
Sri
menyadari bahwa dia dan Michel terikat oleh pasangan masing – masing. Apalagi
Michel adalah seorang pelaut ang sering jauh darikeluarga, di pasti sering
bertemu dengan perempuan – perempuan dari berbagai negara yang mungkin saja
menarik hatinya. Walaupun Michel harus mengkhianati cintanya, tapi Sri akan
selalu mencintai Michel.
4. Sudut Pandang
Orang pertama. Karena dalam cerita, pengarang bertindak sebagai tokoh utama.
5. Penokohan
a. Sri : penuh semangat, tegar, keras kepala, sabar.
b. Michel : sabar, penyayang.
c. Saputro : sabar, penyayang.
d. Charles : pemarah, pelit, egois.
e. Sutopo : perhatian, suka menasehati.
f. Carl : baik hati, sedikit sombong.
6. Gaya Penulisan
Novel “Pada Sebuah Kapal” tidak jauh berbeda dengan novel – novel karya NH.
Dini yang lainnya. Namun novel ini bukan merupakan kisah nyata yang dialami NH.
Dini, walaupun menggunakan sudut pandang orang pertama dan seting tempat serta
tokoh – tokoh yang diceritakan di dalam novel ini berkaitan dengan kehidupan
NH. Dini. Dalam penulisannya, banyak terdapat gaya bahasa seperti
personifikasi, hiperbola, dan simile.
7. Amanat
Manusia harus selalu sabar dalam menghdapi semua masalah kehidupan, harus mau
menerima nasihat dari orang – orang terdekat, dan harus bertanggung jawab
dengan langkah yang telah diambil.